span.fullpost {display:inline;}

pasindar

Tuesday, September 19, 2006

Menghemat energi pada industri perhotelan




"Ayahmu bukan direktur, Nak, matikan TV kalau tak ditonton!" Sesekali dengarkanlah nasihat ibu Anda.


  • Peneliti EnergiRizka Elyza

    "Ayahmu bukan direktur, Nak, matikan TV kalau tak ditonton!" Sesekali dengarkanlah nasihat ibu Anda. Maaf, bukan bermaksud untuk bias gender, tapi kaum ibu rumah tanggalah yang pertama kali sadar pentingnya menghemat listrik. Betapa tidak! Mereka dituntut untuk bisa mengatur keuangan rumah ketika beban perlahan-lahan naik. Tarif listrik sejak lima tahun terakhir naik lebih dari lima kali lipat. Begitu juga biaya telepon, bahan bakar minyak (BBM), dan biaya hidup sehari-hari. Keadaan ini memaksa kaum ibu mengencangkan ikat pinggang.

    Tidak hanya listrik, ibu saya pun akhir-akhir ini suka mampir ke warung sebelah untuk beli minyak tanah. "Sayang gasnya, Nak, makin lama harga per tabung makin mahal, padahal kalau mau masak rendang, paling tidak harus tiga jam."

    Terlepas dari nilai kalor minyak tanah yang lebih rendah daripada liquefied petroleum gas (LPG), ibu saya lebih memilih menyikat pantat penggorengan yang hitam akibat penggunaan kompor minyak daripada membeli tambahan satu tabung LPG. Bisa saya pastikan, Lebaran nanti, kompor minyak tanah itu pasti akan keluar lagi untuk merebus ketupat!

    Sayangnya, tidak semua orang berpandangan seperti ibu. Tengoklah gedung perkantoran nan megah di kawasan Sudirman, Jakarta. Hampir semua gedung itu menggunakan AC yang niscaya jika Anda berada di dalamnya bisa membuat Anda berpikir sedang berada di Rusia. Ironisnya, mereka lebih memilih untuk menggunakan jas dan blazer yang tebalnya 5 sentimeter ketimbang menaikkan termostat AC. "Buat apa, toh menyewa ruang kantor ini sudah termasuk listrik!" Padahal satu derajat kenaikan dari termostat memiliki potensi penghematan listrik hingga 5 persen.

    Paradigma seperti itu juga terlihat di industri perhotelan. Hasil studi Pelangi (riset pasar mengenai cara pandang industri perhotelan terhadap isu hemat energi) pada Juli lalu memperlihatkan minimnya pengetahuan kalangan staf ataupun manajemen hotel tentang pentingnya penghematan energi. Mereka masih menganggap biaya listrik yang mahal tecermin dari pelayanan yang mereka berikan kepada tamu. Dengan kata lain, untuk meningkatkan daya saing dengan hotel lain, otomatis harus meningkatkan penggunaan energi.

    Ironisnya, cara pandang ini justru dari kalangan pengelola hotel melati hingga bintang tiga. Padahal merekalah yang paling rentan terhadap perubahan tarif listrik. Di hotel melati, listrik menempati urutan kedua pos pengeluaran terbesar setelah gaji karyawan. Sementara itu, di hotel bintang tiga, menempati nomor 3 setelah gaji karyawan serta biaya makanan dan minuman.

    Selain itu, penghematan energi dipandang sebagai investasi "mahal" yang harus dikeluarkan. "Menghemat energi itu artinya harus mengganti AC window jadi AC split, wah mahal sekali itu!" Atau, "Kalau harus ganti semua bohlam dengan lampu TL, mana sanggup! (Harga) satunya saja sudah Rp 30 ribu!"

    Melakukan penghematan energi pada industri perhotelan memang tantangan tersendiri. Umumnya, pengelola hotel enggan melakukan penghematan karena takut menurunkan tingkat kenyamanan hotelnya. Sebagai konsekuensinya, peraturan yang diterapkan pada hotel-hotel tersebut kadang juga cenderung boros energi.

    Contohnya, hotel X di daerah Senen, setiap staf housekeeping tiap harinya diwajibkan menyalakan AC di semua kamar, baik ada tamu ataupun tidak. Jika sampai pukul 17.00 kamar tersebut tetap tidak terjual, baru AC dimatikan. Selain itu, mereka juga memiliki fasilitas laundry yang cukup lengkap, termasuk di antaranya pengering pakaian berdaya 12 ribu watt yang setiap harinya untuk mencuci 40-50 pasang seprai saja! Itu jauh di bawah kapasitas maksimumnya.

    Selain peraturan yang tak mendukung, minimnya pengetahuan staf juga dikeluhkan manajemen. Seperti keluhan seorang wakil manajemen wilayah perkemahan di Jakarta yang memiliki suplai sekian puluh lampu tembak 1.000 watt yang biasa mereka sewakan. "Saya menjumpai seorang staf yang mengeringkan kaus kakinya yang basah karena kehujanan dengan menyalakan dua lampu!" Selain itu, walau kerap diingatkan untuk mematikan lampu jika tidak digunakan, pada prakteknya banyak sekali lampu taman, jalan, atau wisma yang hingga siang tidak dimatikan. "Mungkin lebih efektif mengaryakan satu orang yang kerjanya hanya keliling mematikan lampu!"

    Sudah saatnya mengubah cara pandang kita. Nyatanya, Indonesia bukanlah lagi kolam susu yang tongkat dan kayu bisa jadi makanan. Karena, jika 200 juta penduduk Indonesia tidak menghemat energi, Indonesia kehilangan Rp 11,65 triliun pada tahun 2000. Padahal pada tahun tersebut, ada potensi penghematan 11,13 persen dari total konsumsi energi (penelitian Pelangi Life After Oil: Energi untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan. Jakarta: 2002).

    Menurut Agenda 21 Indonesia, sektor energi dan sektor rumah tangga memiliki peluang penghematan hingga 10-30 persen dari kebutuhan saat ini, sedangkan sektor industri dan transportasi memberikan kontribusi penghematan lebih besar lagi, yaitu 24-30 persen.

    Khusus industri perhotelan, berdasarkan studi Pelangi, potensi penghematan berkisar 15-30 persen, tergantung pada metode penghematan yang dilakukan. Namun, dari hasil audit energi yang dilakukan melalui tindakan pemeliharaan dan manajemen housekeeping saja, ada potensi penghematan 20 persen.

    Nah, mari kita galakkan penghematan energi!

    20 Langkah Penghematan Energi Tanpa Biaya

    1. Matikan semua peralatan listrik jika tak digunakan, seperti lampu, TV, kipas angin, AC, dan komputer.
    2. Selalu membuka lebar gorden agar penerangan alami dapat digunakan.
    3. Gunakanlah fasilitas energy saving pada monitor komputer.
    4. Hindari penggunaan screensaver pada komputer.
    5. Ikuti tren bekerja paperless. Gunakan secara maksimal fasilitas pertukaran dokumen melalui e-mail.
    6. Hindari menggunakan standby power pada semua peralatan elektronik.
    7. Gunakan timer jika ingin memakai AC.
    8. Selalu menutup pintu dan jendela saat AC menyala.
    9. Pasang termostat AC pada suhu 22-23oC, setiap kenaikan satu derajat dapat menghemat sekitar 5 persen.
    10. Hindari penggunaan pakaian yang terlalu tebal ketika bekerja. Hal ini berhubungan dengan temperatur AC di ruangan.
    11. Bersihkan secara teratur coil kulkas.
    12. Pasang temperatur kulkas pada suhu 2-3oC dan set temperatur freezer pada -18 hingga -15oC
    13. Pergunakan kulkas pada kapasitas maksimumnya.
    14. Sediakan ruang yang cukup antara kulkas dan dinding agar udara dapat bersirkulasi antara coil kondensor. Panas yang terjebak dapat meningkatkan konsumsi energi kulkas.
    15. Tutuplah panci ketika memasak.
    16. Gunakan mesin cuci pada kapasitas maksimum.
    17. Jika cuaca cerah, hindari memakai dryer mesin cuci.
    18. Maksimalkan penggunaan tangki air, jangan berulang kali menyalakan pompa air.
    19. Periksa semua keran dari kebocoran. Keran yang bocor menghabiskan air dan energi.
    20. Jangan memakai air berlebihan. Matikan keran saat bercukur dan menggosok gigi. Menghemat air berarti menghemat pemakaian pompa air.
    koran
  • <$BlogItemBody>